18 Tahun Jadi Ketua RT, Saprudin Tinggal di Gubuk Sebelah Kandang Kambing

SUKABUMI, kabarsatu.com – Enam kali sudah Saprudin (57) menjadi ketua Rukun Tetangga (RT) di Kampung Babakan Bandung, Kelurahan Naggelang, Kecamatan Citamiang, Kota Sukabumi. Namun ironis, selama itu pula, ia seakan tak pernah mendapat perhatian dari Pemerintah Daerah (Pemda) setempat.

[nk_awb awb_type=”image” awb_image=”11″ awb_image_size=”full” awb_parallax=”scroll” awb_parallax_speed=”0.2″ awb_parallax_mobile=”true”]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

[/nk_awb]

Buktinya, kendati sudah memberikan pengabdian, ia hanya tinggal di gubuk reot yang bersebelahan dengan kandang kambing. ‘Istana’-nya pun hanya seluas 3 X 3 meter persegi yang ia tinggali bersama istri dan seorang cucu laki-lakinya yang sudah duduk dibangku Kelas 1 SMP sejak tujuh tahun lalu. Padahal, ia menjabat Ketua RT 03 selama enam periode, atau 18 tahun.

Meski menjabat sebagai Ketua RT, namun Saprudin tidak memiliki pekerjaan tetap. Untuk menghidupi keluarganya, ia hanya mengandalkan dari penghasilan sebagai pekerja tidak tetap, atau serabutan. Penghasilannya pun hanya cukup untuk makan sehari-hari.

“Sebenarnya masih banyak yang lebih layak menjadi Ketua RT dari pada saya, tapi warga mempercayakan pada saya,” tuturnya ketika ditemui di rumahnya, Kamis (21/9/17).

Saprudin mengisahkan, sebelum ditempati, rumah yang ditinggalinya hanya gubuk  kosong. Ia lantas meminta izin kepada pemiliknya untuk menempati gubuk yang bersebelahan dengan kandang kambing tersebut.

Meski harus banting tulang mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya, Saprudin tidak meninggalkan tugasnya sebagai Ketua RT. “Sebagai Ketua RT, saya harus melayani warga dengan baik,” katanya.

Hebatnya lagi, Saprudin lebih mengutamakan kepentingan warganya dari dirinya sendiri. Rumah warga yang tidak layak huni diajukan ke pemerintah untuk diperbaiki. Padahal, dia sendiri tidak memiliki rumah dan tinggal di rumah tidak layak huni. Ia tidak ingin ada anggapan warga lebih mengutamakan kepentingan pribadi sebegai Ketua RT.

“Tidak enak sama warga kalau saya utamakan memperbaiki rumah yang saya tempati, karena masih banyak juga warga yang seperti saya,” jelasnya.

Menjabat sebagai Ketua RT bukan atas kemauannya sendiri, tapi pilihan warga. Karena alasan itu, ia lebih mengutamakan tanggung jawabnya sebagai Ketua RT. Padahal, ia tidak pernah menawarkan diri untuk ikut pemilihan Ketua RT.

“Saya bertanggung jawab sepenuhnya mensejahterakan warga, walaupun saya tinggal di rumah reot, kesejahteraan masyarakat diutamakan,” tegasnya.

Ironinya, sejak menjabat Ketua RT belasan tahun, ia tidak pernah kedatangan petugas melakukan survey di lingkungannya. Padahal, banyak warga yang tinggal di rumah reot, termasuk adiknya sendiri, Indriani (50), janda dua anak yang juga tinggal di dekat kandang kambing.MI*




Diterbitkan
Dikategorikan dalam Komunitas

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.