Dinas Sosial Kabupaten Bogor Siap Cari Orangtua Asuh

BOGOR, kabar1.com – Dinas Sosial Kabupaten Bogor melalui tim dari Lembaga Konsultasi Kesejahteraan Keluarga (LK3) memiliki perananan melindungi keselamatan pasca bayi yang dibuang ditemukan.

 

Kepala Bidang Pemberdayaan Sosial Dinsos Kabupaten Bogor, Leni Rachmawati mengaku, Dinas Sosial juga berperan hingga bayi yang dibuang mendapatkan hak asuhnya baik dari orang tua kandung ataupun orang tua asuh calon pengasuh.

 

“Awalnya kita tetap mengusahakan orang tua aslinya ditemukan karena yang terbaik adalah rawatan dari orang tua kandung. Kita bekerjasama dengan kepolisian mencari dengan pihak kepolisian. Jika tidak ditemukan, maka kita tunggu sampai ada orang yang memang siap untuk mengasuh,” jelas Leni.

Baca juga :  Sungai Cimanuk Rumpin Tercemar, Kades Gintung Geram

 

Lebih lanjut Leni mengungkapkan, sebelum calon orang tua pengasuh bayi meminta bayi tersebut dari Balai Kesejahteraan Sosial (BKS) sebagai tempat sementara bayi tinggal, ada beberapa kriteria yang harus terpenuhi.

 

Pertama, calon orang tua itu sudah menikah, berumur minimal 30 tahun dan dalam kondisi sehat mental serta fisik lalu divonis dokter tidak akan punya keturunan.

 

“Selain itu juga mereka harus mampu baik secara materil ataupun immaterial. Lalu harus ada izin dari pihak keluarga. Dan keterangan pernyataan dari pihak keluarga (calon pengasuh) untuk tidak menyembunyikan status anak untuk menyampaikan asal-usul anak tersebut pada waktu yang tepat (sifatnya situasional),” ungkap Leni.

Baca juga :  Satpol PP Kabupaten Bogor Sita Ratusan Miras

 

Namun berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 44 Tahun 2017 tentang Pelaksanaan Pengasuhan Anak, kata Leni, dalam pasal 7 ayat 2 dimana bagi pengasuhan anak di luar panti selain BKS dan panti, itu harus mendapatkan izin dari dinsos kota/kabupaten yang menangani yang mengacu pada rekomendasi hasil assessment dari LK3.

Baca juga :  Dewan Kota Bogor ‘Kepo’ Soal Tower

 

“Pengasuhan dilakukan 6 bulan pertama (jika disetujui LK3) lalu diperpanjang begitu seterusnya. Kita juga melakukan home visit (berkunjung ke rumah pengasuh). Jika ditemukan ketidaksesuaian dengan perjanjian awal, maka bayi atau anak yang diasuh bisa kita ambil kembali,” tutur Leni.

 

Ia menambahkan, di semester pertama tahun 2018 ini, orang tua asuh yang mengambil calon anak asuhnya baru 2 sampai 3. “Kalau untuk hal ini tidak signifikan, karena kami pun ketat melakukan pengawasan. Jangan sampai diasuh oleh tangan yang salah,” tandasnya.STR