Managemen PT Aplus Diklaim Diskriminasi Karyawan tetap

LEBAK|kabar1.com- Sikap diskriminatif managemen PT Aplus Pasifik di Desa Nameng Kecamatan Rangkasbitung, terhadap Asep Suprihatin seorang karyawan tetap di perusahaan tersebut, semakin hari semakin menjadi-jadi. 

Asep yang selama delapan tahun menjabat sebagai supervisor di PT Aplus, tanpa sebab dan kesalahan yang jelas, terhitung tanggal 1 Juli 2018 dipindahkan ke bagian mesin Packing.

Tidak sampai disitu, sebagai karyawan tetap, Asep tidak pernah diberikan jatah lembur di shift satu,melainkan hanya di berikan hak lembur di shift dua dan tiga.

“Bukan saja demosi jabatan, hak lembur saya pun jadwalnya selalu di shift dua dan tiga. Dimana untuk shift dua dimulai dari jam 16.00 – 00. WIB,sedangkan untuk shift tiga dari mulai pukul 00-8.00 WIB,” tutur Asep, pada kabar1.com, kemarin di Rangkasbitung.

Baca juga :  Jalan Pasar Parung Kembali Dipadati PKL

Untuk itu, dirasa sikap diskriminatif managemen PT Aplus sudah diluar batas toleransi, maka pada 2 Agustus 2018, Asep mengadukan langsung sikap diskriminatif PT Aplus tersebut ke Dinas Tenaga Kerja dan Transimigrasi (Disnakertrans) Lebak
Saat itu, Asep ditemui langsung Kabid Hubungan Industrial Muhtar Hasibuan, dasar kedatangannya ke Disnaker Lebak, yaitu sesuai dengan undang Nomor 13 Tahun 2013, tentang ketenagakerjaan Pasal 5,dimana setiap tenaga kerja wajib memperoleh hak yang sama tanpa perlakuan diskriminatif dari perusahaan.

Baca juga :  BBGRM Memacu Semangat Masyarakat Mekarsari Untuk Lakukan Gotong Royong Rutin

“Aturan saja melarang sebuah perusahaan memperlakukan karyawannya secara semena-mena. Tapi kenapa itu dilakukan managemen PT Aplus, jadi hal wajar kalau pada akhirnya saya ngadu ke Disnaker, jika itu salah katakan dari sisi mana,” ujar Asep.

Ironisnya lagi, lanjut Asep lagi, usai dirinya mengadukan sikap diskriminatif managemen PT Aplus ke Disnaker, justeru tanpa pemberitahuan sama sekali. Asep kembali mendapatkan surat pemindahan sepihak dari wilayah kerja PT Aplus Rangkasbitung, dipindah tugaskan ke bagian Gudang di Pasar Kemis Tangerang.

Artinya, Pengaduan dirinya ke pihak Disnaker Lebak,sama sekali tidak menghasilkan solusi apapun. Bahkan Disnaker maupun Asosiasi terkait sekalipun, sepertinya sudah setali tiga uang dengan oknum managemen PT Aplus Pasifik.

Baca juga :  Warga Neglasari Terisolasi

“Kalau Disnaker saja sudah ompong untuk melindungi hak-hak dan nasib karyawan disebuah perusahaan. Lalu kemana lagi saya harus mengadu, haruskah melalui jalur hukum,” tukas Asep.

Terpisah, Kepala Bidang Hubungan Industrial Disnakertrans, Muhtar Hasibuan, saat menerima pengaduan Asep menjelaskan, bahwa itu adalah mutlak menjadi wewenang perusahaan. “Masalah ini bukan wewenangnya Disnaker tapi wewenangnya perusahaan. Silahkan bicarakan masalahnya dengan managemen PT Aplus,” terang Muhtar. AIS/YNS